Senin, 17 Februari 2020

menemukan dan kehilangan

Aku berdiri tepat dibawah sorot bulan yang redup. Kala itu purnama belum sepenuhnya utuh. 
Dan sinarnya tak jua memberiku terang yang menenangkan.

Gelapnya semesta membawaku pada masa yang begitu menyenangkan dan memilukan.

Banyak orang menyebutnya menemukan dan kehilangan.

Menemukan tak serta merta membuatku merasa utuh.
Menemukan pula tak membuatku begitu luruh pada kebahagiaan.

Lalu, pada sebuah rasa ketidaksyukuranku pada semesta perihal menemukan, ia memberiku warna berbeda lagi.
Kali ini begitu kelabu dan amat pilu.
Ia merenggut banyak temuan temuan hingga aku menjadi sesak pada sebuah rasa bernama kehilangan.

Rasa hilang yang datang lantas membuatku merasa bak mati dan jauh pada titik surgawi.

Padahal, aku sempat berkata jika menemukan justru tak pernah membuatku merasa utuh.

Aku keliru perihal itu.

Ternyata menemukan membuatku mengerti pada warna baru selain pilu juga kelabu.

Meskipun temuan tak menetap, meskipun temuan hanya sempat dan sesaat, tak apa.

Setidaknya aku sempat mengecap rasa meskipun tak selamanya.

Kamis, 29 Agustus 2019

141km!

Semalam, diperjalanan pulang
Aku sempat bertanya tanya perihal itu.

Perihal dirimu.

Karena kupikir sudah tidak ada lagi cinta yang sempat kau tanamkan dihatimu.

Pesan pesan yang selalu kita tukar terasa hambar rasanya.
Ingin sekali aku bertanya padamu.

Tapi ya aku terlalu pengecut untuk bertanya "kau sudah tidak mencintaiku lagi kah?".

Iya, aku hanya takut jika jawaban dari pertanyaan itu sama dengan pikiranku.

Kau sudah tidak mencintaiku lagi.

Kau terlihat acuh sekarang.

Bahkan setelah aku kau kecewakan kau malah bersikap tak peduli.

Aneh ya,
Dulu kau yang menyenangkan lenyap seketika.

Kemana dirimu yang menyenangkan itu?
Apa sudah ada pemilik yang baru?
Atau memang kau tak ingin aku menjadi pemiliknya lagi?

Sebelum tidur, aku sempat memikirkan perihal itu. Sesekali membuatku menangis karena terlalu lelah.

Namun tetap saja, yang ada hanya kau yang acuh.

Menyedihkan memang.
Kau sudah tak lagi sama.
Aku takut kau bersamaku karena rasa kasihan.

Menyakitkan bukan?.

Sungguh, aku ingin melihat kau yang dulu.
Agar dadaku tak semakin sesak setiap harinya.
Agar tak ada lagi alasan untuk menangis setiap malamnya.

Aku ingin kamu yang dulu, itu saja.

"Teman baikku sempat berkata "apa yang sedang kau pertahankan? Yang sedang kau berjuangkan? Keindahanya sudah hilang. Yang tersisa hanya duri yang melekat. Aku tak ingin kau sakit maka lekaslah pulih."

Jumat, 26 Juli 2019

Sephia

Lucu ya ketika aku mengharapkan sesuatu yang nyatanya sebaliknya.
Dia yang kau sematkan dan aku yang berakhir kau arsipkan.
Ironisnya, aku hanya bagian dari leluconmu yang menyedihkan.

Seharusnya, kita tak perlu terburu buru
Lebih tepatnya lagi aku.

Hanya karena kamu adalah laki laki yang menarik pikiranku akhir akhir ini, aku rela menjadi seorang penceroboh lagi, lagi, dan lagi.

Perihal ini sempat membuatku jatuh. Dengan luka yang sedemikian rupa. Tanpa sadar memang aku yang mencipta luka.

Kemarin, dibalik pelangi yang datang secara enggan, ada secercah harapan yang memasuki rongga pikiran.

Bagiku, rasamu itu memang sementara.
Ketika dia sedang rehat, sedang renggang dan bosan.
Dan kamu sedang mencari sebuah peralihan.

Bodohnya aku, terlena dengan bujuk rayu dirinya,
Sehingga membuatku berkelana dalam perihnya luka.

"Ketika kamu mencintai 2 hati, maka pilihlah hati kedua. Sebab jika kau setia kau tak akan pernah terlena dengan yang lainya."

Selasa, 09 Juli 2019

Secarik kertas dan duka.

Hai, bagaimana kabarmu?
Kemarin, sudah kuterima seutas undangan darimu.
Sebenernya sedikit menggoyahkan hati.
Namun tak apa, kita sudah bukan kita sejak hari lalu.

Purnamamu sudah utuh ternyata.
Pantas saja, dari sekian banyaknya frasa yang kau cipta,
Sudah tidak ada lagi namaku di dalamnya.

Masih ingat dengan mimpi kita?
Mimpi untuk satu atap bersama,
Mimpi untuk bersama hingga tua.
Dan membuat cerita setiap waktunya.

Kau tahu?
Meskipun dulu kita tak selalu sama,
Namun mimpi itu masih ku genggam.
Masih ku ucap baik namamu dalam setiap doaku.

Besok kau menikah ya,
Berada bersamanya dalam pelaminan.
Dan menjadi perempuan tercantik yang kujumpai meskipun kau tak bersamaku.

Berbahagialah, meskipun aku berselimut duka.

"Dulu, aku jatuh cinta padamu. Besok, Aku terluka karenamu."

Sabtu, 22 Juni 2019

Frasa yang belum usai dan rasa yang terpaksa usai

Terkadang ada beberapa orang selalu diam memendam luka.
membuat aksara bertema duka.
Tanpa sadar, ketika mengingat ia luar biasa tersakiti.

Lalu, apa kabar? Si dia yang paling dalam tancapkan luka?
Apakah masih menjadi frasa luka dan cinta terdalam bagimu?

Baiknya, jangan mencipta frasa tentang dia yang membuat luka.
Yang membuatmu mati rasa,
Bahkan hingga tak ada lagi kata untuk meng-eja luka.

Tak usah lagi kau ingat dia.

Aku tak ingin kau menjadi lebih sakit dari semestinya.
Hatimu hanya patah, semestapun tidak binasa.

Sebegitu kamu mencintainya. Hingga kamu dan babi buta tak ada bedanya.

Segala tentang dia biarkan menjadi ingatan klise yang tak berputar.
Agar hatimu tak demikian sengsara.
Agar hatimu seperti semula.

Karena hati yang sekarat juga butuh waktu untuk istirahat.

"Lebih baik sendiri, dari pada menunggu ia yang kau cintai tak kunjung kembali dan peduli"

Senin, 27 Mei 2019

Lelaki permata biru

Sore itu, ada sebuah genggaman baru untuk aku yang seperti benalu.

Tidak sempurna, namun cukup membuat luka ini perlahan sirna.

Dulu, semesta memang benar.
Bahwa akan ada pelukan semesta lainya, tanpa perlu mengurai air mata.

Tuan,
Aku adalah putri yang sempat hancur di tempat yang subur,
Dan terpaksa menjadi bunga gugur dan melebur.

Baiknya tuan saat itu,
Menggenggam aku yang hancur, yang penuh dengan luka, serta penuh dengan puing puing kehilangan yang berserakan.

Namun rasanya tak begitu pantas bersanding denganmu.
Aku yang hanya seorang putri benalu,
Dan kamu si lelaki permata biru.

Baiknya semesta saat ini,
Selalu memelukku dengan erat, memberi lelaki permata biru.
Padahal sudah jelas aku benar benar membencimu dulu.

"Jika semesta berubah, jika dunia tak kunjung memberi restu, jika galaksi memberi lebih, tetap saja, aku memilihmu, si permata biru."

Jumat, 24 Mei 2019

universo estoy desesperado

Di malam yang sendu,kala itu
Kamu membuatku menjadi sosok teramat penting bagimu sebelum aku terpaksa menjadi bagian yang harus digunting.

Aku tak tahu,
Benar benar tak tahu apakah kamu sebenarnya melankolis, puitis atau bahkan apatis.

Yang jelas kita, atau bahkan mungkin kamu, tak mampu untuk menjadi anarkis.

Tuan,
Aku tak mampu untuk menjadi rasis dan tak harus bermetamorfosa menjadi zionis.

Semua begitu mengerikan.
Termasuk beberapa sisa puing puing kehilangan.
Mengerikan dan juga kehilangan yang menyakitkan.

Lantas,
Haruskah aku beradu dengan siapa yang tak memberi restu? Dan menjadikan seonggok daging ini berubah membiru?

Tuan,
Ah aku benar benar frustasi saat ini.
Kubilang semesta sedang mempermainkan.

Rasanya tak perlu lagi ku katakan padamu jika semesta tak pernah memberi arti untuk kita.
Memberi ruang bahagia untuk kita.

Tuan,
Kupanggil engkau sekali lagi.
Tak peduli teriakan itu memekikan telinga.

Ini bukan sebuah jeda,
Ini sebuah perpisahan.
Perpisahan yang seharusnya tak ada.

Aku putus asa tuan.
Tidak bisa bertahan lebih lama.
Aku harus pergi kemana tempat yang semestinya.

Tuan,
Aku memanggilmu untuk terakhir kalinya.
Hanya untuk memberi tahu,
Aku ingin kau bahagia.

"Cinta pertama datang bukan pada siapa engkau jatuh cinta. Tapi cinta pertama datang pada siapa yang membuatmu merasa amat bahagia, merasa begitu terjaga dan tak ingin kehilangan. Namun, di beberapa cerita, mereka kehilangan cinta pertamanya."